Senyum Tanpa Gigi

Cerpen Nur Muhammadian

“Kesabaranku sudah habis mas…!” aku sengaja memilih kata-kata itu untuk memulai pembicaraan agar suamiku tidak menjawab dengan kata-kata klisenya : “Sabar dik, yang sabar…”. Ternyata benar, sesuai harapanku, dengan tersenyum mas Damar menjawab beda “ Aduh, gawat banget ! Harus segera belanja kesabaran nih!” mas Damar mencoba berkelakar untuk menenangkanku. Aku diam saja memandangnya tajam.

Menyadari usahanya yang gagal, mas Damar memegang tanganku dan berbicara lebih serius tapi tetap lembut “ada apa dik? Apa salahku?”

Aku melunak merasakan sikap perhatian dan kelembutan mas Damar. Bahkan muncul sedikut rasa bersalah di hatiku karena sudah memberondongnya dengan keluhan saat dia baru pulang kerja, letih.

“Maaf mas, aku terlalu emosi. Bukan mas Damar kok yang salah”

“Mbok Darmi mas, mbok Darmi sudah keterlaluan!” nada suaraku mulai meninggi lagi. “Mentang-mentang aku masih muda bisa diperlakukan seenaknya seperti anak kecil. Gini-gini aku khan majikannya. Aku yang bayar dia kok diperlakukan semena-mena. Pantas anaknya bersikap tidak baik padanya. Itu karena ulahnya sendiri yang nyebelin!” aku nerocos memuntahkan uneg-uneg di dadaku. Sebenarnya uneg-unegku tentang mbok Darmi, sudah beberapa kali kusampaikan ke mas Damar. Karena itu kali ini mas Damar tidak meminta penjelasan lebih lanjut dariku tentang kelakuan mbok Darmi.

“Mbok Darmi memang sudah tua, bahkan terlalu tua. Kita harus memahaminya” mas Damar berusaha lagi menenangkanku.

“Ndak bisa gitu dong mas! Dia tetap harus menyadari posisinya dan menjaga sikapnya” aku ngotot tidak setuju dengan pendapat mas Damar.

“Apakah kamu sudah menegur dia baik-baik?”

“Sudah, tapi ya gitu. Saat kutegur dia diam saja. Tapi dia mengulang lagi-mengulang lagi”

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kamu tega memecat dia? Dan lagi saat ini tidak gampang mencari pembantu, apa lagi dalam waktu singkat”

“ Mulai saat ini aku tidak akan bersikap lunak kepadanya. Tidak ada lagi ramah tamah. Aku berbicara kepadanya kalau butuh saja, dan tidak pakai kata tolong. Biar dia rasakan bagaimana diperlakukan semena-mena. Kalau dia nggak kerasan biar saja minta berhenti. Aku sudah siap kok kalau harus tanpa pembantu untuk sementara. Toh Alif dan Bela sudah cukup besar” sekali lagi aku nerocos, dengan emosi menjabarkan rencana hukumanku untuk mbok Darmi.

“Aku mendukungmu , bila menurutmu baik. Tapi hati-hati, jangan sampai sikap kasarmu kepada mbok Darmi dilihat dan ditiru anak-anak” ujar mas Damar sambil mencium keningku. Dan itu menjadi penutup obrolan kami malam itu.

=====================================================

Namanya Sudarmi, bekerja sebagai pembantu di rumah kami sejak lima tahun yang lalu. Orangnya sudah tua, tua sekali. Mbok Darmi buta huruf. Kalau ditanya berapa usianya, dia hanya tahu bahwa dia lahir bersamaan dengan saat Ratu Yuliana melahirkan. Tidak jelas ratu Belanda itu melahirkan anak yang keberapa. Kami sendiri menaksir usianya lebih dari delapan puluh lima tahun. Cucu dan cicitnya sudah banyak. Sebenarnya tujuan kami mempekerjakan dia hanya untuk menemaniku dan membantu mengerjakan yang ringan-ringan. Setiap hari dia datang habis shubuh dan pulang sore hari sebelum maghrib. Rumahnya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah kami. Meskipun sudah sangat tua, mbok Darmi sangat sehat dan kuat. Jarang sekali dia sakit. Kalaupun sakit paling-paling pilek atau batuk, itupun hanya sebentar.

Mungkin karena merasa sudah tua dan aku seusia cucunya, mbok Darmi seringkali bersikap seperti seorang nenek kepadaku. Pada batas-batas tertentu aku tidak keberatan. Yang membuatku mulai senewen adalah bila dia datang dengan muka ditekuk. Sepanjang hari dia akan cemberut, dan menjawab ketus bila diajak bicara. Beberapa hari kemudian aku baru tahu penyebab dia bersikap seperti itu dari dia sendiri, saat kekesalan hatinya sudah reda. Ternyata dia bertengkar dengan anak dan menantunya.

Mbok Darmi tinggal bersama keluarga anak perempuannya. Di rumahnya sendiri mbok Darmi sering diperlakukan tidak pantas. Meskipun rumah itu adalah rumahnya, belum ia wariskan ke anaknya, mbok Darmi hanya kebagian bilik sempit untuk tempatnya tidur.. Anaknya tiap hari berdagang di pasar. Sedangkan menantunya bekerja sebagai tukang ojek. Tetapi karena sifat malas, menantunya lebih sering menganggur di rumah. Padahal motor yang ia pakai dibeli dengan menggunakan tabungan hasil jerih payah mbok Darmi. Mbok Darmi lebih sering diperlakukan sebagai pembantu di rumahnya sendiri. Karena itu mbok Darmi lebih senang berlama-lama di rumah kami. Mungkin dia tidak pulang sama sekali bila ada kamar lebih di rumah kami.

“Kalau punya masalah dengan anak sampeyan yo jangan dibawa ke sini mbok!” aku menegurnya dan dia hanya tersenyum lebar menunjukkan gusinya yang tanpa gigi.

Teguranku sia-sia karena dia mengulang dan mengulang lagi sikapnya. Bisa dibayangkan betapa gerahnya aku di rumah saat dia kambuh dengan sikap juteknya seharian.

Yang membuatku sangat senewen adalah sikap-sikapnya yang bagai seorang nenek yang bertindak over protected kepada cucunya.

“Telepon dari siapa jeng?” bila aku terima telepon dan ngobrol agak lama.

“Perginya jangan lama-lama jeng?”

“Pergi sama siapa jeng?”

Pada awalnya aku diamkan, tidak menggubris pertanyaan-pertanyaannya. Tapi lama-kelamaan aku jadi sebal banget.

“Mbok! Saya telepon sama siapa, pergi dengan siapa, bukan urusan mbok!”

Hardikanku tidak membuat dia berhenti mengulangi sikap-sikapnya yang membuatku sebal.

Dan puncaknya pada siang hari itu. Aku dan Bela bersama-sama dengan dua orang teman pengajianku baru pulang dari makan siang bersama. Mbok DArmi membukakan pintu dengan wajah cemberut. Tanpa berkata apa-apa dia langsung kembali duduk menonton televisi, sambil cemberut.

“Mbok, tolong buatkan es teh dua gelas untuk tamu” aku memberinya instruksi sambil berjalan menuju kamar mandi. Keluar dari kamar mandi aku mendapati mbok Darmi masih duduk menonton televisi, sambil cemberut. Emosiku meledak.

“Mbok Darmi! Sampeyan dengar nggak aku ngomong apa!” aku tidak perduli suaraku yang sangat keras terdengar oleh tamu-tamuku. Tapi aku jadi agak menyesal karena Bela menangis merangkul salah satu temanku, ketakutan. Mbok Darmi beranjak menuju dapur, sambil cemberut. Terdengar suara berisik, suara barang pecah belah yang beradu, dari dapur. Beberapa saat kemudian mbok Darmi keluar membawa nampan berisi dua gelas es teh, sambil cemberut. Dia meletakkan gelas di meja dengan kasar sehingga sedikit isinya tumpah. Dengan dengusan, yang aku yakin sengaja dikeraskan agar aku dan tamu-tamuku mendengarnya, dia berbalik dan kembali ke depan televisi. Ini sudah keterlaluan. Mbok Darmi boleh memperlakukanku seperti kepada cucunya, tapi dia tidak berhak bersikap kasar kepada tamu-tamuku. Aku segera mematikan televisi dan mendekatinya, berusaha menahan amarah, berusaha merendahkan suaraku.

“Mbok! Kalau sampeyan nggak mau di sini pulang saja! Pulang sana!” meskipun sedikit berbisik hawa amarah sangat terasa dari suara dan wajahku, yang mungkin memerah.

Mbok Darmi ketakutan menyadari besarnya kemarahanku. Dia beringsut menuju dapur.Itulah puncak kekurangajaran mbok Darmi yang memicu puncak kemarahanku. Sehingga aku memutuskan untuk memberinya hukuman.

Sesuai rencana hukuman yang aku sampaikan ke mas Damar, aku tidak mau beramah tamah lagi dengan mbok Darmi. Bicaraku padanya dengan nada perintah tanpa awalan “tolong”. Tidak kuijinkan dia menonton televisi. Bahkan tidak kuberi kesempatan dia menyentuh Bela.

=====================================================

“Sudah berapa hari kamu menghukum mbok Darmi dik?” Minggu pagi ini kami sekeluarga jalan-jalan ke kebun kecil di sebelah komplek perumahan kami. Saat itu aku dan mas Damar duduk berdua memandang Alif dan Bela yang sedang bermain berlarian.

“ Hari ini tepat sembilan hari mas…”

“Bagaimana reaksi mbok Darmi?”

“Sikapnya sudah berubah. Mungkin dia menyadari kalau aku marah dan menghukumnya”

Memang benar, mbok Darmi berubah. Sejak sikapku keras kepadanya mbok Darmi jadi semakin rajin bekerja. Ada saja yang dia kerjakan seharian, padahal sebelumnya dia paling suka nonton sinetron. Setiap perintah yang kuberikan selalu dia kerjakan dengan segera dan cepat. Tidak pernah lagi wajahnya cemberut. Dia selalu tersenyum tapi dengan sedikit menunduk takut.

“Sampai kapan kamu akan menghukumnya dik?”

“Sampai seterusnya mas. Kalau tidak begitu dia pasti mengulang lagi kesalahannya. Atau sampai dia tidak kerasan”

“Apa kamu tidak capek bersikap seperti itu?”

Aku tidak menjawab, hanya memandang mas Damar, menunggu-mengharapkan dia melanjutkan ucapannya.

“Sikapmu tepat bila tujuanmu untuk mendidik dia. Tapi sangat keliru kalau tujuanmu adalah membuatnya tidak kerasan. Pasti kamu sendiri juga tidak nyaman di rumah khan?”

Aku terdiam, dalam hati membenarkan.

“Cobalah jangan hanya mengingat kesalahan mbok Darmi. Tapi ingat juga kebaikan-kebaikannya. Bagaimana sayangnya dia kepada Alif dan Bela. Saat kamu sakit dia dengan telaten memijitimu, membuatkan jamu dan tidak mau pulang sebelum kamu sembuh”

Kata-kata mas Damar seperti meniup awan dendam di hatiku. Sebenarnya beberapa hari terakhir ada sedikit terlintas perasaan kasihan kepada mbok Darmi. Pernah aku dapati dia memandang Bela yang sedang tidur dari jendela luar, seperti ingin membelai tapi takut untuk mendekat. Bila sudah menyelesaikan pekerjaan dia duduk meringkuk di sudut dapur menunggu bila ada perintah lain dariku. Lintasan perasaan iba itu hilang tertutup awan gelap dendam mengingat sikap-sikapnya yang menyebalkan.

“Mbok Darmi sudah tua. Anak-anaknya memperlakukan dia dengan tidak hormat. Di rumah kita dia merasa menemukan kebahagiaan. Menemukan cucu baru, cicit baru. Bukankah salah satu tujuan kita mempekerjakan dia adalah untuk sedekah. Sedekah memberinya kebahagiaan?” Mas Damar meneruskan kata-katanya yang semakin melegakan dadaku. Ternyata perasaan dendamku selama ini sangat membebani.

=====================================================

“Mbok ayo jalan-jalan ke Alun-alun. Tolong siapkan susu dan celana ganti adik”

Pertama kali aku bersikap ramah kepada mbok Darmi setelah sikap penghukumanku membuatnya sangat gembira. Dengan senyum lebar tanpa gigi dia bergegas menjalankan perintahku. Sepanjang perjalanan di dalam angkot dia terus tersenyum dengan mata berbinar.

Di Alun-alun kota mbok Darmi dengan ceria bercanda bersama Alif dan Bella. Aku memandang mereka dengan gembira, sangat gembira. Benar kata-kata mas Damar bahwa kebahagiaan terbesar adalah bila kita bisa membahagiakan orang lain.

Tiba-tiba HP-ku berdering, bu Darman tetanggaku yang rumahnya paling bagus konsultasi tentang resep kue yang didapat dariku.

“Telepon dari siapa jeng?” tanpa kusadari mbok Darmi sudah berdiri di sampingku. Aku tidak menjawab, hanya memandangnya tajam. Mbok Darmi berlalu, sambil tersenyum ragu. Senyum yang tanpa gigi.

7 thoughts on “Senyum Tanpa Gigi

  1. Mohon maaf Pak Dian, mampir nih. Cerpennya bagus kok, afwan, kemarin pas dimuat di buku Kumcer, judulnya saya tambahin, menjadi Hukuman untuk Mbok Darmi. Afwan jika tidak berkenan.

    [nmd]Nggak apa-apa pak. Mohon bimbingannya terus pak…

  2. iwow, pak Dian nulis juga.

    Hm.. saya lho nggak telaten meramut blog gini. hahahaha..
    blogq my.opera.com/iphip

    [nmd] sebenarnya gag perlu ngeramut…..cukup membiasakan menulis……

  3. saya sudah pernah membaca cerpen ini sebelum di muat di blog ini. Luar biasa!

    [nmd]Baca di mana mbak Puspita?

  4. Pak dian.., cerpen yang bagus, tapi bagaimanapun… diantara kekurangan dan kelebihan, baik ada ikatan darah maupun tidak, yang namanya orang tua tetaplah orang tua, yang mungkin tidak tahu maksud dan keinginan hati kita, jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menghormatinya…..
    P.S: Terus menulis ya Pak…semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s