Adikku Bela dan Bola

Cerpen NM Dian

“Bang ikut….!”
Mata Bela yang berbinar memandangku berharap
“Nggak usah!!”
Aku menjawab dengan bentakan. Kutinggalkan dia yang pasti mulai menangis. Biar saja, aku tidak peduli.

Aku dan Bela adikku terpaut selisih usia yang sangat jauh, delapan tahun. Aku sayang dia sekaligus sebal. Aku menyayanginya karena dia cantik, lucu dan karena dia adikku. Adik yang kunantikan kehadirannya sejak lama. Sejak aku masih kelas nol besar TK aku sudah setiap hari berdoa meminta adik. Aku punya banyak teman, di sekolah maupun teman main di sekitar rumah, tapi tetap saja aku merasa kesepian di rumah. Ibuku seorang ibu rumah tangga jadi lebih sering di rumah. Tetapi pasti lain rasanya main bersama ibu dengan main bersama saudara. Seperti Bondan dan Bowo, kakak adik saudara sepupuku. Kemana-mana mereka memakai baju yang sama. Main bola bersama. Mereka sering ke rumahku, bersama-sama. Atau seperti saudara sepupuku yang lain, tiga bersaudara Sinta, Ana, dan Maya. Mereka terlihat selalu kompak. Sebenarnya aku tidak terlalu suka mereka karena mereka senangnya main boneka dan jual-jualan, permainan anak perempuan.

Awalnya kalau berdoa aku minta adik laki-laki kepada Tuhan.. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, doaku tidak kunjung dikabulkan. Aku mengubah harapanku, asal punya adik aku sangat senang.

Alhamdulillah, saat aku kelas dua SD bunda hamil dan melahirkan Bela adikku. Aku sangat senang, aku sangat bahagia dan sangat bangga. Semua teman-temanku , di sekolah maupun teman main di sekitar rumah kuberitahu. Kupamerkan foto Bela yang kudapat dari Ayah. Adikku cantik, putih, dan lucu.Yang paling kusuka adalah matanya yang lebar, bening dan berbinar, seperti mata Shizuka teman Nobita.
Aku sangat menyayanginya. Aku sangat bersemangat membantu Bunda saat memandikan, mengganti popok yang basah, dan menemaninya saat tidur. Aku selalu minta ke Ayah untuk membelikan mainan bola buat Bela. Meskipun Ayah tidak selalu membelikan mainan berbentuk bola, mainan bola milik Bela sangat banyak. Aku ingin saat Bela sudah besar, saat sudah bisa berjalan dan berlari, bisa menemaniku bermain bola.

Sebelum ulang tahun yang pertama Bela sudah bisa bicara. Dan yang membuatku bangga kata pertama yang bisa diucapkan Bela adalah ‘abang’, bukan ‘ayah’ atau ‘bunda’.
Hampir tepat usia satu tahun Bela mulai bisa berjalan. Hampir tiap hari dia kuajari menendang bola, bola kain mainannya. Bela sangat senang bermain denganku. Aku semakin bangga dan sayang padanya.

Semakin lama Bela semakin lucu. Tingkahnya semakin menggemaskan. Tetapi ada perubahan sikap Bela yang tidak kusuka. Bela jadi lebih suka main boneka dibanding main bola. Kalau kuajak main bola dia malah mengajakku memainkan boneka-bonekanya. Aku mulai sebal.

Saat usianya lebih dari dua tahun Bela sudah sangat lincah. Saat itu aku merasa sudah saatnya mulai mengajari Bela menendang bola yang asli, bola yang terbuat dari kulit. Bola yang selalu kumainkan bersama teman-teman di lapangan bola. Tapi aku kecewa, hanya tiga kali Bela mau menendang bola, setelah itu dia tidak mau dengan alasan kakinya sakit. Sejak itu Bela tidak mau bila kuajak latihan menendang bola kulit. Aku semakin sebal.

Yang paling membuatku sebal adalah bila trio cerewet , begitulah aku menjuluki tiga bersaudara Sinta-Ana-Maya, main ke rumah kami.Bela akan asyik bermain dengan mereka dan mengabaikanku. Aku sangat sebal, sebal sekali.

Aku pernah mengajak Bela, karena dia yang ingin ikut, ke lapangan bola. Tapi hanya sekali dan aku tidak akan pernah mengajaknya lagi. Karena sepanjang permainan Bela berkali-kali memanggilku dari pinggir lapangan, merengek minta diantar pulang.
“Makanya lain kali nggak usah ngajak adik kalau main bola! Ngerecokin aja!” teman-teman menegur setengah mengejek. Aku malu dan sangat sebal.
Sejak itu aku tidak mau lagi mengajak Bela ke lapangan bola, meskipun dia merengek dan menangis.
“Bang ikut…!”
“Bang aku janji nggak rewel…”
“Baaaaang…!”
Matanya yang berbinar akan basah oleh air mata.

Siang ini, sepulang sekolah rumahku sepi. Hanya kutemui Mbok Darmi di rumah.
“ Bang Alif, dik Bela kecelakaan, ditabrak motor. Sekarang di rumah sakit”
Hatiku berdebar. Sedih, membayangkan tubuh mungil Bela terbaring dan terluka. Sedih sekali.
“Pesan dari Bunda, Bang Alif segera ganti baju, makan, kemudian ke rumah Om Joko. Om Joko nanti yang akan mengantar ke rumah sakit”
Aku segera ganti baju dan makan. Hanya satu sendok makanan yang bisa kutelan. Aku terlalu tidak sabar ingin segera ke rumah sakit. Aku bergegas ke rumah Om Joko, tetangga depan rumah. Om Joko sudah siap mengantarku ke rumah sakit.

Di rumah sakit, di kamar tempat Bela terbaring, kulihat ada Ayah, Bunda, dan Tante Rina, istri Om Joko. Mereka berkumpul di samping ranjang Bela. Seperti yang kubayangkan, tubuh mungil Bela terbaring lemah. Matanya terpejam. Kepala dan tangannya dibalut perban. Namun Ayah dan Bunda tampak tenang.
Bunda memeluk dan menciumku, kemudian membimbingku mendekati ranjang Bela.

“Bela nggak apa-apa kok Bang…Lukanya hanya luka luar. Tidak ada yang patah. Dia tertidur karena pengaruh obat.”

“Siapa yang menabraknya Bunda? Tega sekali dia!” Suaraku bergetar menahan sedih campur marah.

“Pengendara motor itu tidak sepenuhnya salah. Dia tidak sempat menghindar saat Bela mendadak lari menyeberang jalan. Kejadiannya sangat cepat. Padahal Bunda saat itu duduk di kursi teras menemani Bela yang main di halaman.”

“Mengapa Bela menyeberang Bunda?” Penasaran membuat perasaanku semakin campur aduk.

Belum sempat Bunda menjawab tangan Ayah menggamitku dan mengajakku duduk di kursi. Aku tersadar bahwa sejak tadi aku belum menyapa Ayah. Kucium tangan kanan Ayah.

“Bela menyeberang karena mengejar bola yang terlempar keluar pagar. Bola kulit kesayangan Bang Alif”

Aku memandang Ayah bingung. Ayah meneruskan menjelaskan bahwa tiap hari saat aku di sekolah Bela mengambil bola di kamarku dan berlatih menendang bola itu. Sebelum aku datang segera membersihkan dan mengembalikan di tempat semula karena takut kumarahi.

“Bela sangat menyayangi Abang. Dia ingin pintar main bola agar Abang mau lagi main dengannya”

Mataku jadi sangat panas. Perasaanku yang sudah campur aduk bertambah lagi dengan sesal. Memang sudah lama aku tidak pernah mau main dengan Bela. Sejak kesebalanku memuncak. Sebal karena dia tidak mau latihan menendang bola, sebal karena dia lebih suka main boneka. Aku teringat beberapa minggu yang lalu, sepulangku sekolah, Bela masuk ke kamarku dan mengambil bolaku.

“Bang main bola yuk…!” Binar matanya memandangku membujuk sambil tersenyum manis, sangat manis.
Tetapi karena aku terlanjur sebal dan kecewa aku menganggap ajakannya sebagai gangguan.

“Nggak usah!!” Aku membentaknya.

Bela tetap berdiri dan tersenyum memandangku. Mungkin dia berharap aku berubah pikiran.

“Nggak usah !! Jangan sentuh bolaku !!!”

Aku merebut bola di tangannya dengan kasar. Kulihat matanya yang berbinar mulai basah. Bibir senyumnya berubah menjadi bibir mewek.

“Aku ingin main sama Abang……” Bela sesenggukan sambil keluar dari kamarku.

Beberapa kali kemudian Aku selalu mengusir Bela bila dia masuk kamarku. Teringat itu semua air mataku tidak terbendung. Air mata sedih dan sesal.

“Maafkan Bela yang Bang Alif…Nanti bola kulit Bang Alif Ayah ganti.”

Aku tidak kuasa lagi menjawab kata-kata Ayah. Air mataku semakin deras mengalir. Aku sangat menyayangi Bela, jauh melebihi sayangku pada bolaku, ternyata. Aku berjanji dalam hati bila Bela sembuh nanti akan selalu membuatnya bahagia. Aku akan sering mengajaknya main, bahkan menemaninya main boneka, kalau itu bisa membuatnya bahagia. Aku ingin mata yang tertutup itu berbinar lagi.

One thought on “Adikku Bela dan Bola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s