Kiamat

Film 2012 sukses di pasar, penonton memenuhi gedung bioskop.  Bila suatu film sukses di pasar, aku yakin 90% disebabkan sistem pemasarannya yang luar biasa, bukan karena kualitas filmnya. Pemasar film ini dengan lihainya memainkan isue kiamat yang menjadi inti cerita film. Sebenarnya ada beberapa film fiksi ilmiah dengan tema kiamat, tetapi film 2012 yang menampakkan gambaran kiamat di seluruh bumi.Dengan cermat film ini menunjukkan tempat-tempat istimewa di penjuru bumi mengalami kehancuran. Bahkan beredar isue bahwa sebenarnya akan ditunjukkan juga bangunan kakbah yang retak dan hancur, namun adegan itu dipotong karena beberapa pertimbangan.
Isue-isue inilah yang disebarkan pemasar film ini ke calon penonton. Tentang latar belakang cerita yang diangkat, adegan-adegan spektakuler, dan pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang semuanya berhubungan dengan keyakinan agama, suatu isue yang membuat orang takut,marah,khawatir, yang berujung pada rasa penasaran. Fatwa-fatwa larangan justru semakin menantang mereka untuk membuktikan sendiri dengan menonton langsung.

Ya begitulah…
Tapi aku tidak ingin membahas film 2012, karena aku belum menonton film itu. Aku tidak punya kompetensi, tidak berhak membahasnya.
Yang ingin kubahas saat ini adalah tentang kiamat, atau tepatnya ‘ketakutan orang terhadap kiamat’.
Sejak kecil dulu aku sudah beberapa kali mendengar ramalan orang tentang hari kiamat. Banyak sedikitnya orang yang percaya tergantung isi isuenya dan siapa yang menyebarkannya, tapi masih belum ada yang mencapai lingkup internasional-dipercaya banyak bangsa. Film 2012 ini mungkin yang dampak isunya paling luas, dan yang memiliki efek finansial yang paling besar juga bagi sang pemicu isue, pembuat film.
Betapa besar ketakutan orang terhadap hari kiamat. Wajar, memang wajar bila orang bergidik membayangkan dahsyatnya kiamat, saat bumi dihancurkan serentak, kiamat akbar. Yang membuatku heran adalah kecilnya ketakutan orang terhadap kiamat yang lebih kecil. Atau sedikit sekali orang yang takut terhadap kiamat yang lebih kecil.

Kiamat besar “hanyalah” kumpulan dari kiamat yang lebih kecil.

Pernyataanku hanya berlaku bila dipandang dari sisi korban kiamat. Benar khan…? Saat aku mati, tidak ada bedanya apakah mati sendirian atau bersama-sama dengan beberapa orang. Bahkan tidak ada bedanya bila aku mati bersama-sama dengan seluruh manusia di bumi.
Kiamat besar (tapi bukan kiamat global) sangat berbeda dengan kiamat kecil atau kiamat individu bila dipandang dari sisi orang-orang yang selamat. Orang-orang yang selamat akan merasakan kehilangan sesuai dengan besarnya kiamat yang terjadi. Tapi saat kiamat global terjadi tidak ada satupun manusia yang selamat, semuanya jadi korban, semua orang akan mengalami kiamat individu secara bersamaan.
Berarti, seharusnya bukan kiamat global yang harus ditakuti, tapi kiamat individu yang harus dikhawatirkan. Dan itu pasti menimpa setiap orang, semua manusia, tinggal tunggu waktu. Lalu…kenapa harus takut terhadap kiamat global bila kematian sangat mungkin lebih cepat datang menemui kita?

3 thoughts on “Kiamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s