Visi : 50% Sukses

Benarkah? Beberapa kali, bahkan mungkin setiap kali, aku mengikuti pelatihan atau seminar motivasi selalu ditekankan pentingnya Visi untuk mencapai-menggapai sukses, selalu. Benarkah?
Sempat aku tidak percaya dengan statement itu. Bagiku (dulu) sukses bisa didapat dengan kerja keras dan anugerah. Aku menganggap visi (sekali lagi dulu) identik dengan mimpi, angan-angan. Bukan hanya tidak percaya, aku bahkan apriori dengan statement tersebut. Aku mengkhawatirkan statement itu akan membuat orang jadi suka berandai-andai, bermimpi, tapi malas bekerja keras. Aku tidak percaya dengan statement itu.
Dalam agama juga kita dilarang berandai-andai, berangan-angan terlalu tinggi.

Memang untuk menerima sebuah statement kadang-kadang kita membutuhkan sebuah proses. Aku sangat bersyukur ALLOH memberiku waktu dan kesempatan untuk berpikir, merenung – tafakur. Dengan berjalannya waktu, melewati beberapa aktifitas hidup dan bermalam-malam keheningan, aku mulai bisa merasakan-menemukan perbedaan antara visi dengan angan-angan. ALHAMDULILLAH aku bisa membedakannya, aku semakin memahami maksud statement itu.

Ternyata ada perbedaan yang sangat besar antara visi dengan angan-angan. Perbedaannya ada pada pengaruh yang ditimbulkannya. Visi akan membuat orang menjadi bersemangat, bekerja lebih terarah dan tidak mudah menyerah. Sedangkan angan-angan sebaliknya. Orang yang suka berangan-angan cenderung malas, arah hidup tidak jelas, dan akhirnya menjadi beban bagi lingkungannya.

Salah satu contoh angan-angan adalah, yang biasa dilakukan oleh para sarjana, menjadi manajer dengan gaji yang tinggi. Para sarjana pelamun ini bahkan tidak tahu manajer bidang apa yang mereka inginkan. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukan seorang manajer, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai posisi tersebut. Saat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan dengan pongahnya mereka meminta gaji yang tinggi tanpa bisa menunjukkan potensi apa yang bisa mereka berikan kepada perusahaan.
Sementara menunggu mendapatkan pekerjaan, mereka tidak melakukan apapun yang berarti, hanya sekedar mencari dan menunggu panggilan. Hari-harinya dihabiskan di depan televisi atau nongkrong berjam-jam bersama teman-teman senasib mereka sesama pengangguran. Hingga pada suatu saat mereka mengalami kejenuhan, keputusasaan, mereka mencari sensasi baru dengan melakukan kegiatan negatif, narkoba, free sex. Bahkan demi membuktikan jati dirinya mereka dengan bangganya melakukan tindakan kriminal anarkis.

Sedangkan sebuah visi bagi seorang visioner sangatlah jelas. Seorang visioner berusaha menentukan visinya sedetil mungkin. Bila dia ingin menjadi seorang pengusaha sukses, dia sudah tentukan waktunya. Setiap saat dia berusaha memperjelas visinya, membayangkan lebih detil : perusahaan apa, ilmu-ilmu yang harus dia pelajari, buku yang harus dibaca, bahkan acara televisi yang harus dia tonton. Sejak bangun tidur seorang visioner sudah tahu apa yang harus dilakukan. Karena fokus pada visi, seorang visioner tidak mudah menyerah. Dia tidak mengenal kata gagal, yang ada adalah pelajaran untuk mendapatkan cara yang lebih baik. Ibarat menuju suatu tempat, sang visioner tidak akan berhenti saat menemui jalan buntu, tapi berusaha mencari jalan lain. Bila alamat tujuan sudah ditentukan dengan jelas, dan kita mau berjalan menuju ke sana, bukankah tinggal menunggu waktu saja kita mencapainya.

One thought on “Visi : 50% Sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s