Harapan untuk Coqi

Sejak Coqi lahir, aku sudah sering membayangkan , atau boleh dibilang mengharapkan, bahwa anakku tidak perlu punya prestasi akademik yang tinggi, tetapi dia perlu memiliki kelebihan dari rata-rata anak di usia yang sama. Harapanku itu dilandasi pengalaman hidupku sendiri. Bahwa prestasi akademikku selama ini kurasa hanya sedikit kontribusinya mengantarkanku menuju bahagia (“bahagia” lebih suka kugunakan dibanding “sukses”). Dan banyak juga , bahkan lebih banyak kubaca, orang-orang “bahagia” yang tidak memiliki riwayat prestasi pendidikan yang luar biasa. Aku menyadari bahwa aku tidak berhak mensetting minat Coqi, aku tidak berhak mentarget prestasi Coqi. Maka aku hanya berpikir, membayangkan dengan kuat, seperti apa masa depan Coqi yang aku harapkan.
Aku sangat ingin anak-anakku bahagia. Aku ingin Coqi jadi sangat bahagia. “Bahagia” dalam arti yang luas, segala arti. Bahagia yang benar-benar dia rasakan, bukan bahagia menurutku atau orang lain. Bahagia yang dia dapatkan sejak dia lahir dan sepanjang hidupnya, seluruh hidupnya.
Maka setiap hari, setiap saat, kebahagiaan anak-anakkulah yang aku perhatikan dengan sepenuh hati, dan segala hal yang bisa mengarahkan kebahagiaan di masa depannya, di dunia maupun akhirat.

Mungkin karena harapanku, bayanganku mempengaruhi sikap-sikapku dalam mendidik Coqi. Atau mungkin bayanganku berubah menjadi doa dan ALLOH mengabulkannya.

Alhamdulillah, apa yang aku bayangkan tentang Coqi banyak yang terwujud. Coqi tidak pernah mendapat prestasi akademik yang luar biasa, belum pernah mendapatkan ranking lima besar. Dan Coqi memiliki kemampuan komunikasi verbal melebihi rata-rata anak seusianya. Coqi juga mempunyai minat baca yang lebih tinggi dari teman-temannya, bahkan mungkin lebih tinggi dari teman-temanku di kantor.
Aku bangga pada Coqi, selalu bangga, dan ketika Coqi menjadi seperti apa yang aku bayangkan, aku menjadi sedikit khawatir. Aku khawatir Coqi tidak bahagia dengan keadaannya. Karena apa yang membuatku senang belum tentu membuat Coqi bahagia. Aku selalu konfirmasi ke Coqi. Dan bila harapanku terhadap Coqi bukan kebahagiaan yang dia harapkan, aku harus merelakan harapan-harapanku. Aku harus menyamakan-mengikuti harapan kebahagiaannya. Karena ini tentang hidupnya, dan kebahagiaannya adalah harapanku, menjadi ke-“bahagia”-anku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s