Matematika Dalam Misi

Aku baru terima Rapor sisipan dari Coqi. Ada dua nilai C dan satu nilai C-. Padahal passing gradenya adalah C. Yang mendapat nilai C- adalah pelajaran Matematika. Sebenarnya aku tidak kecewa dengan pencapaian Coqi, karena dia mendapatkan nilai A untuk pelajaran Agama dan Ilmu Sosial. Tapi aku khawatir, karena sampai saat ini masih banyak orang menganggap pelajaran Matematika sebagai pelajaran inti untuk tolok ukur prestasi akademik. Aku mengenal anakku. Dia bukannya tidak mampu pada pelajaran Matematika, tapi dia kurang berminat terhadap pelajaran tersebut. Bila sudah tidak berminat, bagaimana mungkin aku memaksanya berprestasi?

Aku sendiri adalah penggemar Matematika, dan bagiku Matematika sangat berarti dalam jalan kehidupanku. Matematika membuatku terlatih berpikir analitik-taktik. Tetapi aku tidak mungkin memaksa anak-anakku agar menyukai Matematika. Aku tidak mungkin memaksa Coqi yang mempunyai cita-cita menjadi Presiden untuk menyukai Matematika. Pola pikirku yang dipengaruhi Matematika memang sangat membantuku dalam karir. Tapi aku tidak berani menjamin bahwa Matematika bisa membantu Coqi menjadi Presiden.

Aku sudah sangat senang bahwa Coqi mudah diterima di lingkungan baru, bahkan sangat disukai. Bagiku hal tersebut sangat melegakan, karena kemampuan seseorang beradaptasi dengan lingkungan baru adalah kunci kebahagiaan.
Aku luar biasa bahagia bahwa Coqi memiliki minat yang besar terhadap pelajaran Agama. Siapapun orang tua pasti punya perasaan yang sama denganku bila punya anak seperti itu. Bila ada yang tidak aku sampaikan rasa prihatinku.

Memang aku tidak bisa memaksa Coqi untuk menyukai Matematika, seperti memaksanya menyukai sayur. Tetapi karena seperti sayur, Matematika sangat bermanfaat bagi kehidupan, aku harus berbagi dengannya bagaimana nikmatnya Matematika. Aku harus mengenalkan padanya Matematika dari sisi yang menyenangkan, sisi yang mengasyikkan. Memang tidak mudah, tidak bisa cepat, tidak bisa instan, harus telaten-sabar. Bukankah memang itu tugasku sebagai ayah? Telaten-bersabar mengarahkan anak kepada kebahagian. Bukankah hanya itu proyek kita di dunia? Misi suci dari TUHAN.

2 thoughts on “Matematika Dalam Misi

  1. ehm, kayaknya masalah kita sama boz … bedanya dulu ente jawara matematika, aku cuma jagoan basket … hehehe

    [nmd]Ah Ki Lurah suka merendah…..Jagoan basket khan di lapangan….di kelas juga jagoan matematika…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s