Bersyukur = Bahagia

(Berhubungan dengan tulisan sebelumnya : Bahagia)

Tiga belas tahun yang lalu, yang ada di angan-anganku adalah : “Alangkah bahagianya bila aku bisa diterima bekerja di suatu perusahaan”. Tidak penting berapa gajiku, apa jabatanku, yang penting bisa bekerja. Karena saat itu aku sudah menganggur selama hampir satu tahun. Bayangkan saja, yang sudah berpengalaman bekerja saja susah mencari kerja. Yang baru lulus kuliah, yang pikirannya masih fresh dengan ilmu-ilmu canggih (karena itu disebut Fresh Graduate) juga sangat sulit mencari kerja. Apalagi aku, yang sudah lulus satu tahun, sudah tidak fresh lagi, dan tidak punya pengalaman bekerja sama sekali. Bisa membayangkan khan perasaanku saat itu?

Karena kasih sayang ALLOH, aku diterima di perusahaan telekomunikasi dengan gaji satu setengah kali gaji yang aku minta. Luar biasa bahagia sekali aku saat itu.

Saat menerima gaji pertama, ingin rasanya aku mentraktir, membelanjakan segala hal bagi Bapak, Ibu, dan seluruh saudaraku. Tapi kebahagiaan itu hanya terasa besar dalam beberapa bulan saja. Setelah itu, gaji yang kuterima terasa biasa, tidak terlalu istimewa untuk bisa membuat bahagia. Padahal jumlahnya tidak menurun, dan harga-harga barang juga tidak mengalami kenaikan. Ke mana perginya perasaan bahagia itu…??

Dua tahun kemudian, terjadilah Krisis Moneter. Kepala Cabang perusahaanku menyampaikan bahwa agar perusahaan bisa bertahan, kemungkinan akan ada pengurangan karyawan. Kami semua shock, khususnya aku yang sudah merencanakan menikah di bulan Februari 1998. Dalam pikiranku saat itu: biarlah gajiku dipotong jadi separuh asal jangan di-PHK. Karena di luar sana, banyak perusahaan yang bangkrut dan banyak pula yang melakukan pengurangan karyawannya. Kalau aku di-PHK kemana aku harus bekerja?

Ternyata perusahaanku bisa bertahan tanpa melakukan pengurangan karyawan. Aku tetap bekerja dengan gaji utuh. Bukankah itu suatu anugerah yang sangat besar? Tapi…mengapa aku tidak merasa sangat bahagia? Biasa saja meneruskan bekerja…

Pada tahun dua ribu dua terjadi pembenahan struktur grade di perusahaanku. Beberapa teman-temanku mengalami peningkatan level sehingga gajinya juga naik menjadi dua kali lipat. Aku tidak termasuk yang beruntung, dan bila melihat kondisi perusahaan saat itu rasanya sangat kecil kemungkinan gajiku naik dua kali lipat dalam kurun waktu empat tahun kemudian. Saat itu aku hanya bisa membayangkan : “Betapa bahagianya bila gajiku naik dua kali lipat…”.Tidak seperti prasangkaku, ternyata satu tahun kemudian anganku itu menjadi kenyataan. Aku bahagia, tetapi setelah beberapa bulan kebahagiaan itu berangsur-angsur memudar. Kenapa…??

Kenapa kebahagiaanku bisa memudar? Mengapa tidak bisa bertahan lama? Ke mana perginya? Mengapa kebahagiaanku tidak bisa maksimal saat mendapatkan apa yang (pernah) aku angankan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mendengung di kepalaku. Membayangi hari-hariku.

Setiap malam aku merenung-berkomtemplasi-bermuhasabah mencari jawaban. Dengan Kasih Sayang ALLOH, melalui dalil-dalil yang terkandung dalam ALQUR’AN, Hadits, orang-orang di sekelilingku, sahabat-sahabatku (termasuk sahabat-sahabat Blogger), aku mendapatkan serpih-serpih jawaban. Memang kontemplasi adalah proses terus-menerus tiada henti sampai akhir hayat, tetapi bagai menyusun sebuah puzzle super besar secara berangsur-angsur potongan-potongan gambar mulai menunjukkan bentuk.

Pada awal bekerja dulu, aku merasakan kebahagiaan yang sangat besar karena bisa menerima pendapatan sendiri yang lumayan besar menurut standardku sendiri. Dengan berjalannya waktu, aku bertemu dengan teman-teman kantor yang memiliki standard yang lebih tinggi. Sebenarnya tidak masalah bila mereka tidak mentransfer pikiran-pikiran negative ke dalam pikiranku, atau pikiranku bisa tetap bertahan dengan isi yang positif. Pada bulan ketiga aku mulai membanding-bandingkan besar gajiku dengan teman-teman yang menerima gaji lebih tinggi. Aku juga sering menerima keluhan-keluhan dari teman-temanku yang tidak puas dengan gaji yang dia terima. Aku terpengaruh dan aku tidak bahagia.

Saat krismon aku tidak jadi di-PHK, banyak teman-teman yang tetap mengeluh karena tidak adanya kenaikan kesejahteraan sedangkan harga-harga naik semua (eh bukan naik, tapi berubah). Aku terpengaruh dan aku tidak bahagia.

Pada saat gajiku meningkat dua kali lipat, gaji teman-temanku juga naik. Semua temanku merasakan kenaikan gaji, namun besarannya bervariasi. Yang merasa puas diam, yang tidak puas mengeluh. Sekali lagi aku terpengaruh, dan aku tidak bahagia.

Aku tidak bahagia karena aku terpengaruh lingkungan yang negatif. Pikiran negative yang membuatku tidak bersyukur. Itulah kunci kebahagiaan : bersyukur.

Jika kamu bersyukur pasti kami menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatku, maka sesungguhnya azabku sangat pedih.(Ibrahim:7)

Aku (atau kita semua?) hanya punya dua pilihan, mensyukuri nikmat atau mengingkarinya, tidak ada pilihan ketiga, tidak ada pilihan tengah-tengah. Dan setiap pilihan ada risikonya.

Mensyukuri nikmat : bahagia

Mengingkari nikmat : menderita (tidak bahagia)

Orang yang bahagia selalu bersemangat. Orang yang bersemangat akan produktif. Orang yang produktif pasti sukses.

Ingatkah yang kita alami saat awal Krismon tahun 1997? Pada saat itu yang ada hanya gambaran penderitaan yang akan diderita bangsa Indonesia, seakan-akan masa depan bangsa ini sangat suram. Dengan berjalannya waktu, ternyata yang kita alami tidak sesuram yang kita bayangkan (meskipun ada diantara saudara kita yang tidak beruntung). Keberhasilan kita melewati masa krisis apakah sudah kita syukuri?

Saat ini dunia sedang mengalami krisis global. Semoga krisis ini tidak menjadi azab bagi bangsa kita karena kurang bersyukur.

11 thoughts on “Bersyukur = Bahagia

  1. Subhanallah…
    sungguh banyak nikmat Allah yang kita terima setiap saat…
    bahkan Allah mengingatkan kita berulang-ulang,

    “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

    memang sudah menjadi tabiat dasar manusia untuk tidak selalu puas… Untuk itu kuncinya bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita… Urusan keuangan, janganlah kita memandang ke atas, tapi lihatlah saudara-saudara kita yang kekurangan..

    [nmd] Salam kenal mas Eko. Banyak sekali dalih manusia untuk mengingkari nikmat…Semoga kita selalu menjadi insan yang bersyukur

  2. Jika kamu bersyukur pasti kami menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatku, maka sesungguhnya azabku sangat pedih.(Ibrahim:7)

    Aku sangat suka ayat ini, yukk…. bersyukurrrr… biar tambah nikmatnya….

    [nmd]Yuuuk…Amin…

  3. Hmmm….rasa syukur mempermudah hidup kita dan memperingan langkah kita sehingga kita mampu merasa bahagia🙂

    [nmd]Berbahagialah orang yang selalu bersyukur…Terima kasih kunjungan dan komentarnya Cahaya😀

  4. Di Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa manusia itu ingkar amat sedikit bersyukur.. sifat dasar manusia…

    hmph.. ayat terakhir ad-dhuha?

    sepertinya, kebahagiaan itu bukan dari banyaknya, tp dr rs syukur kt… semakin bersyukur, semakin ikhlas, berapapun itu… semakin bahagia…

  5. buat saya, bahagia ga bisa diperoleh hanya dengan memberi ‘janji’ akan bahagia jika… gaji naik, nasib lebih baik, wajah lebih ganteng, dst.
    bahagia harus dicari tapi tidak dengan memberi janji terlebih dulu pada diri sendiri.
    ini pengalaman dan pendapat saya sebagai orang tua loh….

    [nmd]hmmmm…sepakat , berarti bahagia atau tidak dari diri kita sendir, mau mencari atau tidak…

  6. saya bahkan bahagia tanpa adanya kenaikan atau perbaikan, karena saya mempunyai keluarga dan teman-teman yang memperhatikan saya.
    selayaknya kita bersyukur bahkan untuk sesuap nasi yang kita makan hari ini. semoga kita tidak lupa bersyukur.
    Terima kasih untuk sharingnya pak
    EM

    [nmd]Tidak diragukan lagi…Siapapun akan bahagia bila memiliki keluarga seperti mbak Imelda…Tapi banyak orang yang tidak bisa bahagia dengan yang dimilikinya…

  7. 4 thun lalu ane bagai orang yg sangat beruntung ketika jadi karyawan tetap, kemarin aku aneh melihat temanku gajinya 15 juta bahkan 25jt plus lemburan. tapi kalo aku gabung apakah bisa jadi senang?? Au dah..

    Hari ane liat bacaan ini di blog,,yg penting emang Bersyukur ya Pak D…

    A L H A M D U L I L L A H

    [nmd]Tinggal pilih kok…mau bahagia atau tidak…Tetap semangat coy…

  8. Membaca postingan kali ini, menggugahku untuk melakukan intropeksi diri..Karena hampir saja aku tergelincir dengan keadaan yang aku sekarang aku nikmati…Alhamdulillah

  9. Ping-balik: Berbahagia Dahulu Berbahagia Kemudian « H A T I

  10. Ping-balik: Harapan untuk Coqi « H A T I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s