Naik Sepeda 4 : Mencoba Hidup Seimbang

Hidup sehat seimbang, seperti apa?

 

“Kita harus seimbang antara dosa dan pahala “

Waduh, kalau kebablas kebanyakan dosa bagaimana dong… ??

 

“Harus seimbang antara aktifitas ibadah dan aktifitas keduniaan”

Lha mbaginya bagaimana? Fifty – fifty ? Bukannya setiap pekerjaan positif bisa kita niatkan ibadah? Bahkan bila kita niatkan dan ikhlas, tidurpun akan bernilai ibadah.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan ALLOH kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana ALLOH telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.Sesungguhnya ALLOH tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”(Al Qasas 77)

Jadi seharusnya porsi dunia dibanding akhirat bagaikan rumput di sela-sela padi di sawah. Atau ibarat menanam rosella di sela-sela  pohon jati Jumbo.

Khan seimbang bukan berarti prosentase sama semua…

 

“Kebutuhan jasmani, akal, dan ruh harus terpenuhi..“

Atau sering disebut IESQ, Intelligence Emotional Spritual Quotient

Ini yang agak sulit. Sulit sekali kita (kita…?gue doang kali..) bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu secara seimbang.

Banyak orang yang badannya sehat, pandai, tapi ruhnya kosong. Tidak ada nilai spiritual sama sekali dalam hidupnya. Ujung-ujungnya masuk penjara karena korupsi.

Karena itu aku tidak setuju dengan istilah Mensana in cor pore sano, dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Karena tidak otomatis orang yang berbadan sehat pasti memiliki jiwa yang sehat pula. Atau aku salah menterjemahkan mensana in cor pore sano??

Tidak jarang pula orang-orang pandai, ilmu dan amal agamanya tinggi, kurang memperhatikan kebutuhan raganya. Mereka asyik dengan mencari ilmu dan berdakwah sehingga lupa bahwa raganya terikat SUNNATULLOH. Bahwa kalau kurang makan akan sakit, kalau kurang olah raga daya tahan tubuh menurun, kalau kurang tidur harus diimbangi makan yang bergizi. Toh Nabi Muhammad SAW juga seorang atlet.

 

Polemik ini menimpaku.

Untuk urusan akal, aku sudah memenuhinya dengan membaca sebanyak-banyaknya buku. Kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan kerja dan masyarakat. Untuk urusan Ruh, aku juga berusaha maksimal mengamalkan ajaran agamaku, mengikuti kajian-kajian penambah ilmu agamaku. Nah…karena kesibukanku dengan dua urusan itu, aku jadi tidak punya waktu untuk memenuhi urusan yang ketiga, kebutuhan jasmani, terutama kebutuhan jasmani akan Olah Raga. Sulit sekali mencari waktu untuk berolah raga. Pagi hari, waktuku habis untuk kegiatan spiritual dan keluarga. Siang hari, waktuku habis untuk mencari uang yang sebenarnya juga demi memenuhi kebutuhan jasmani. Malam hari, waktuku juga sudah dibooking untuk kebutuhan akal, dengan membaca buku dan ngeblog. Lalu kapan waktuku untuk olah raga? Sabtu dan minggu juga sudah jadi jatah keluarga. Sesekali sich kami olah raga bersama di hari libur, tapi khan tidak cukup bila olah raga seminggu sekali…? Aku pernah baca bahwa seusiaku harus olah raga minimal empat kali seminggu selama tiga puluh menit tanpa henti.

Aku berpikir, merenung, mencari ide…Bila kendala berolah raga adalah waktu, berarti aku harus mencari jenis olah raga yang bisa aku lakukan sambil beraktifitas lain.

ALHAMDULILLAH, sekarang aku punya solusi, sejak aku bisa bersepeda. Untuk meluangkan waktu khusus bersepeda dengan teman-teman, aku memang tidak punya waktu. Tetapi aku bersepeda saat berangkat dan pulang kantor. Sehingga minimal lima hari seminggu aku olah raga bersepeda, menempuh delapan kilo perjalanan pergi dan delapan kilo perjalanan pulang kantor, dalam waktu tiga puluh menitan. Bahkan untuk menghadiri majelis-majelis kajian ilmu agama, kulakukan dengan bersepeda.

7 thoughts on “Naik Sepeda 4 : Mencoba Hidup Seimbang

  1. Renungan yang dalem..
    Jadi sadar sie paling sering melupakan waktu makan juga minum jika sudah berhadapan dengan pekerjaan, apalagi kalau hati lagi kacau wah tahan tuh gak makan seharian,seringnya kalau penyakit udah kambuh baru deh nyadar.
    Makasih mas nmadian udah ngingetin kalau sie juga harus merhatiin kesehatan dan menyayangi diri sendiri, coz kalau sie masih terus dg pola seperti itu dampaknya pasti melebar kemana mana he he..
    Mudah mudahan sie bisa berubah deh..
    Salam ^^v

    [nmd]Terima kasih Sie…kita saling mengingatkan ya….Eh komentarnya cepat banget, selang beberapa menit setelah kuposting….

  2. senangnya bisa bersepeda tiap hari…
    kerja hayu, olahraga dijabanin..
    kerenn…

    mudah2an sehat terus ya…..

    [nmd]Amiin…Semoga kita semua selalu sehat segalanya…

  3. yah kalo udah mulai berumur kaya kita emang mesti rutin olahraga mas.. saya aja juga mesti tak sempet2in basket koq tiap minggu sekali🙂

    setidaknya kalo badan sehat juga mau berpikir sehat juga lebih gampang, bayangin aja klo sakit2an boro boro mau berpikir sehat bisa sembuh aja udah untung hehehe

    Iya mas…Semoga di usia yang semakin lanjut kita tetap sehat dan mendapat berkah

  4. bike to work keren tuh
    tidak ikut nambahin polusi,
    bisa ngirit dan menyehatkan

    proses untuk menemukan solusi itu
    aku suka.🙂

    [nmd]Saya sempat ingin lari (jogging) kalau berangkat – pulang kantor😦

  5. Kalau kita mencari akhirat, dunia akan mengikuti. Sebaliknya, kalau kita mencari dunia, akhirat belum tentu tergapai. Semoga sehat selalu dengan bersepeda

    [nmd] Amin..Semoga pak Husnun juga selalu sehat dengan sepedanya…🙂

  6. Sudah lama pengen punya sepeda…
    Tapi harus ngalah dulu dengan tiga jagoan…
    Sepeda mengajarkan kita untuk bisa seimbang ya?

    [nmd]Kalau saya beli sepeda justru untuk memotivasi Coqi agar mau belajar naik sepeda mbak…(Naik Sepeda 1 dan Naik Sepeda 2)…Tapi kok sampai saat ini masih belum ada kemauan untuk belajar sepeda, punya kiat mbak?

  7. sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui.

    Saya di sini memang kendaraannya sepeda sih ya. Tapi karena bawa anak-anak tidak bisa “berolahraga”. Semoga Riku bisa cepat bersepeda sendiri sehingga beban saya juga berkurang.

    EM

    [nmd] Wah di Jepang banyak temannya dong kalau naik sepeda…Di Malang teman-teman saya adalah para pekerja bangunan yang berasal dari desa Tumpang. Karyawan-karyawan kantor di Malang belum banyak yang sadar manfaat Bike To Work

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s