Bapak : Martabak

Ramadhan tahun delapan puluh tiga

Saat belajar puasa dulu, hal yang terberat bukanlah siang saat puasa, tetapi bangun malam untuk makan sahur. Dan makan sahur paling kutunggu-tunggu adalah bila menunya martabak. Saat itu kehidupan kami sangat sederhana. Bapak, yang hanya punya ijazah SMP, hanya jadi pegawai negeri rendah di PEMKAB Jember. Martabak adalah menu yang mewah bagi kami. Belum tentu setiap bulan kami bisa menikmati martabak.

Malam itu, sebelum kami tidur, Bapak datang membawa bungkusan martabak. Agar tidak Ngringet, martabak yang masih panas dibuka bungkusannya dan diler di piring. Aroma lezatnya menyebar di seluruh rumah, dan membuat air liur menetes. Tetapi kami tidak bisa langsung menikmatinya karena martabak tersebut untuk lauk makan sahur. Jadilah kami bersemangat tidur, agar tidak berlama-lama menahan air liur, atau agar segera bisa bangun makan sahur.

Saat makan sahur tiba, kami bangun dengan semangat tinggi, tidak seperti biasanya. Aku segera cuci muka dan bergegas ke meja makan. Alangkah terkejutnya aku, karena saat keluar kamar menuju kamar mandi aku tidak menyadarinya, rumahku ternyata sudah penuh dengan orang, teman-teman Bapak yang seluruhnya adalah mahasiswa. Sebenarnya hanya tiga atau empat orang (aku tidak ingat pastinya), tapi karena rumah kami tidak luas, jadi terasa penuh. Mereka adalah teman-teman Bapak di organisasi politik, dan melihat tampangnya mereka sangat gembira mendapat kesempatan makan sahur gratis. Alangkah dongkolnya aku, jatah martabakku harus kubagi dengan mereka. Karena Bapak membeli porsi kecil martabak, tanpa ada merekapun, aku hanya mendapat sepotong kecil martabak karena harus berbagi dengan kakak, adik, Bapak dan Ibu. Akupun makan dengan memandang mereka tidak ikhlas “Duh, tega sekali sich mereka numpang makan di sini”. Bahkan sepotong martabak yang tersisa, setelah semua mendapat bagian masing-masing, juga disambar oleh salah satu dari mereka. Aku hanya bisa memandangnya dengan murka “Huh…nggak tahu diri, nggak mau ngalah sama anak kecil!”

Seakan-akan tahu akan isi hatiku pada malam itu, beberapa hari kemudian Bapak menasehatiku panjang lebar tentang keikhlasan.

“Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Rezeki hari ini, habiskan hari ini, salurkan kepada orang-orang sekitarmu, untuk besok itu urusan besok, kita bisa cari lagi. Kebahagiaan terbesar adalah saat kamu bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain …”

Aku hanya diam, tidak mengerti dan tidak setuju dengan nasehat Bapak.

Agustus tahun delapan puluh sembilan

Setiap bulan Agustus, untuk memperingati kemerdekaan RI, di kotaku ada pameran pembangunan. Saat itu Bapak sudah mendapat amanah memimpin team parkir yang dikelola PEMKAB. Bila ada event Bapak akan sibuk memimpin teamnya mengatur parkir kendaraan bermotor, dan pameran pembangunan adalah salah satu event besar di kotaku.

“Yan, Bapak tidak punya uang? Kamu punya? Bapak pinjam dulu ya…”

Bila Bapak mengatakan ‘tidak punya uang’ berarti memang tidak akan ada uang sepeserpun di dompetnya. Dan kata-kata ‘pinjam’ dari Bapak adalah identik dengan ‘minta’. Karena saat pinjaman itu kutagih nanti Bapak pasti menjawab “Lah uang saku yang selama ini kamu terima dari Bapak tidak kamu hitung sebagai pengembalian pinjaman toh…!”

“Bapak mau ke Pameran, memonitor pengaturan parkir di sana. Masa Bapak nggak bawa uang sama sekali?”

“Insya ALLOH ada pak..” Agak berat juga aku untuk merelakan dua puluh ribu rupiah tabunganku yang aku kumpulkan dari uang saku selama dua puluh minggu. Ada sedikit harapan uang itu nanti dipakai Bapak untuk membeli sesuatu di stand-stand pameran untukku.

“Matur nuwun ya, ayo kamu ikut Bapak!”

Semakin besar harapanku.

Sesampai di lokasi Bapak langsung berkeliling ke lahan parkir. Setelah Bapak merasa situasi dan kondisi perparkiran aman terkendali, Bapak mengajak beberpa juru parkir berkumpul duduk lesehan di trotoar jalan.

“ Jo, tolong belikan martabak…” Bapak menyerahkan uang , semua uang yang dipinjam dariku, untuk membeli martabak. Semuanya, uang yang kukumpulkan selama dua puluh minggu, untuk beli martabak. Dan yang semakin membuatku nelangsa adalah bahwa semua martabak itu dihabiskan di situ, tidak ada sepotongpun yang dibawa pulang. Para juru parkir itupun dengan senyum cerah berpesta martabak, menggunakan uang jajan dua puluh mingguku.

Dan, seperti biasa, Bapak seakan bisa merasakan kegundahan hatiku. Beberapa hari kemudian Bapak mengajak ngobrol panjang lebar tentang sedekah.

“Investasi yang tidak mungkin rugi itu sedekah. Meskipun kamu mungkin tidak bisa memetik hasilnya, anak turunmu yang akan memetiknya…..”

Aku hanya diam, menyesali uang saku dua puluh mingguku, menghitung berapa puluh minggu lagi aku bisa beli satu set komik Wayang Purwa.

8 thoughts on “Bapak : Martabak

  1. bisa mengerti sekali perasaan Anda waktu mengalami peristiwa ini. Dan dari judulnya Bapak : Martabak, saya menilhat hubungan erat antara bapak dan martabak + cerita kehidupan di dalamnya. Pasti masih banyak cerita yang lain…. saya tunggu. Dan saya iri karena saya tidak tahu akan mengumpamakan apa bapak saya. Thanks for sharing dan salam kenal

    EM

    [nmd]Salam kenal juga mbak, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

  2. tahun delapan puluh tiga saya baru lahir pak hehehe..

    [nmd] wah padahal martabak tahun itu jauh lebih enak dibanding martabak sekarang hihihi🙂 🙂 Ikut senang kalau mbak Indah sudah bisa tertawa lagi…😀

  3. Salut! Menginspirasi. Martabak holic ya, Pak.🙂

    inilah manusia, yg ditaruh dlm hatinya oleh Sang Pencipta kerinduan utk senantiasa berbagi dan memanusiakan lainnya. Berbagi mengindikasikan pengorbanan dan kerelaan utk memberi. Semakin bnyk memberi, semakin tdk akan merasa kekurangan.

    Btw, bagi dong martabaknya pak. Halah!

    [nmd]Monggo mas…Sampai sekarang kalau ke Jember tidak makan martabak rasanya gak afdol…Dikirim ke alamat mana mas martabaknya??😀 terima kasih kunjungannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s