Kasih Sayang Terbesar

Sabtu kemarin aku menjemput Coqi ke sekolahnya. Begitu masuk Dhuhur aku sholat berjama’ah di masjid VEDC. Selesai sholat, karena Coqi baru keluar sekolah jam tigabelas, kuhabiskan waktuku duduk-duduk di serambi masjid. Sambil blogwalking menggunakan GPRS aku menikmati semilirnya angin siang yang mendung. Beberapa saat kemudian telingaku menangkap pembicaraan dua orang yang membuatku mengalihkan perhatianku dari HP dan mencari sumber suara. Dua orang laki-laki, yang kemungkinan adalah pekerja bangunan yang sedang membangun gedung baru di komplek VEDC, sedang bertegur sapa.

Lelaki 1 : “Ayo sholat yuk…” Lelaki ini bersarung dan berpakaian bersih. Tampak bila dia baru saja mandi, atau sekedar wudlu dan membersihkan seluruh rambut kepalanya kemudian berganti baju.

Lelaki 2 : “Iya…” Suaranya terdengar ogah-ogahan, atau sungkan, mungkin bingung mau menjawab apa. Lelaki ini memegang galah yang digunakan untuk memetik buah mangga dari pohon yang tumbuh di depan masjid.

Lelaki 1: “Ayo…!! Jama’ah yuk..!” Dari nadanya kemungkinan dua orang lelaki ini balum begitu mengenal satu sama lain, atau mungkin sudah mengenal tapi tidak akrab.

Lelaki 2 : “Bajuku kotor…” Lelaki ini memang masih menggunakan “seragam dinas”

Lelaki 1 : “Nggak bawa ganti? Nggak bawa sarung?” Lelaki ini berlalu sambil menunjuk masjid seakan memberi isyarat pamit bahwa dia tidak bisa meneruskan pembicaraan karena akan segera sholat di masjid.

Lelaki 2 : Menoleh ke arah masjid yang selama pembicaraan dibelakanginya. “Ooooh ini masjid ya?”

Seandainya saat itu juga lelaki 2 menemui maut, mungkin dia jadi orang yang sangat merugi. Bagaimana tidak, di dunia dia tidak mendapat bagian, di akhiratpun juga. Segala alasannya untuk tidak sholat dhuhur adalah alasan konyol, alasan yang olehnya dirinya sendiripun tak bisa diterima. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa dia tidak tahu bahwa di dekatnya ada bangunan masjid. Bangunan besar yang beberapa menit sebelumnya mengumandangkan Adzan melalui loudspeaker. Sangat mengerikan bila dia benar-benar tidak menyadari adanya masjid di dekatnya, tidak mendengar adzan yang dikumandangkan. Betapa telinga kepala dan telinga hatinya sudah tertutup rapat. Lalu apakah ada harapan bagi orang seperti itu??

Ternyata ALLOH maha pengasih dan penyayang. Kasih sayang ALLOH jauh lebih besar dari sebesar apapun kesalahan mahluknya. Dengan kasih sayangNYA ALLOH menggerakkan hati lelaki 1 sehingga berkehendak mengajak sholat teman yang belum (begitu) dikenalnya. Dan bukti kasih sayang ALLOH juga adalah dengan kesempatan yang diberikan kepada lelaki 2 untuk bertaubat, diperpanjang usianya minimal satu hari lagi. Mungkin keesokan harinya lelaki 2 sudah bersiap dari rumah membawa pakaian ganti dan sarung. Dan semoga sabtu depan dia bisa bergabung dengan kami sholat dhuhur berjama’ah, Amin.

Sebagian besar dari kita (kita..?? gue doang kali….) melakukan dan mengalami seperti lelaki 2. Betapa sering kita menunda-nunda sholat padahal telinga kita mendengar dengan jelas adzan dikumandangkan.

Bila waktu Dhuhur sudah hampir habis, aku akan tergopoh-gopoh menuju musholah kantor. Sepanjang jalan menuju musholah aku mengajak berjamaah teman-teman yang sedang bekerja.

“Khan sudah tadi Dhuhurnya pak…”

“Kamu sich tadi tidak mengajakku..!”

Padahal saat masuk waktu Dhuhur tadi software adzan di PC-ku sudah mengumandangkan adzan, yang kulakukan malah mengecilkan volume speakernya dan meneruskan kesibukanku.

Kita selalu berdalih sibuk untuk menunda sholat. Bahkan ada yang berani berkata “Tuhan tahu kok kalau aku sedang sibuk”. Kita berlagak sibuk bagaikan memiliki kerajaan sebesar kerajaan nabi Sulaiman AS. Siapa sich kita…berani mengabaikan (menunda memenuhi) panggilan YANG MEMILIKI DUNIA??

Tapi sekali lagi, ALLOH Maha pengasih dan penyayang. Dengan Kasih SayangNYA kita diberi kesempatan untuk bertaubat, kesempatan untuk kembali kepada tujuan awal penciptaan kita. Kita masih dipertemukan dengan orang-orang yang sudi menegur dan mengingatkan kita, karena kehendak ALLOH.

4 thoughts on “Kasih Sayang Terbesar

  1. postingannya pak dian sm kayak tulisanku yg judulnya lima menit saja..
    susahnya “mendapatkan” waktu untuk sholat diwaktu kerja😦

    [nmd]Iya mbak…padahal kita sudah dimudahkan Tuhan dengan hidup di Indonesia yang memberi toleransi karyawannya untuk SHOLAT.Temanku yang kerja di Jepang harus curi-curi kesempatan untuk Sholat dengan resiko dipecat kalau ketahuan meninggalkan post terlalu lama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s