Kesedihan Ibu

Berapa minggu yang lalu Ibuku tercinta datang menjenguk kami. Menginap tiga hari di Malang. Pada suatu kesempatan ibu mengajak bicara serius istriku, cukup serius karena Ibu sampai meneteskan air mata. Saat itu aku sedang di kantor, dan memang Ibu sengaja mencari kesempatan seperti itu, karena mungkin Ibu mengira aku masih seperti dulu, keras-kaku-tidak bisa diajak bicara. Isi dari pembicaraan Ibu dan istriku adalah bahwa beliau sangat memprihatinkan kondisi materi rumah tanggaku, dan tidak sepaham dengan cara pandangku terhadap dunia, termasuk juga doktrin-doktrin yang aku ajarkan kepada anak-anakku. Ibu menganggap aku terlalu tidak menghiraukan kualitas kehidupan dunia, keterlaluan dalam menerapkan “hidup sederhana”. Ibu mengkhawatirkan masa depan cucu-cucunya.

Aku tidak tahu bagaimana Ibu bisa berpikir seperti itu. Sampai sekarangpun aku tidak tahu. Karena Ibu tidak membicarakan kekhawatirannya denganku, sedangkan istriku tidak punya cukup keberanian untuk mempertanyakannya. Aku dan istriku berdiskusi panjang untuk sekedar mereka-reka beberapa kemungkinan penyebab kekhawatiran Ibu tentang hidup kami.

Kemungkinan pertama adalah status rumah yang kami tempati. Sampai saat ini kami tinggal di rumah kontrakan, sedangkan teman-teman kantorku dengan level yang sama, bahkan lebih rendah, sudah menempati rumah sendiri meskipun mendapatkannya dengan cara kredit. Tapi rumah kami tidak jelek-jelek amat. Cukup luas dan bersih dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar mandi, gudang dan garasi. Meskipun statusnya kontrak, rumah kami bersih dan nyaman. Di garasi juga sudah kami isi mobil dan motor (mobil untuk sarana tranportasi istriku, dan motor untukku)

Kemungkinan kedua adalah karena aku tidak memiliki rekening tabungan di Bank atau asuransi. Rekening Bank yang aku miliki hanya untuk sarana transfer gaji setiap bulan, tidak pernah terendap dana di dalamnya, langsung mengalir.Dan aku tidak pernah mau ikut asuransi, dengan alasan teknis menghindari riba. Tapi aku khan berinvestasi. Investasi yang tidak mungkin rugi karena dijamin oleh YANG MAHA MENEPATI JANJI.

Kemungkinan ketiga adalah pesan-pesan yang kusampaikan ke anak-anakku. Sudah dua tahun ini Coqi, anak sulungku, mendapat beasiswa dari perusahaanku. Dan ALHAMDULILLAH dia mengikuti pesanku agar menggunakan sepertiga beasiswanya untuk Qordhon Hasanah, sepertiga untuk beli buku, dan sisanya ditabung. Tapi Coqi aku sekolahkan ke SD IT yang SPP bulanannya sebesar sepertiga total beasiswa tahunan yang dia terima.

Dan kemungkinan-kemungkinan lain yang memperpanjang diskusi kami. Tetapi tidak ada satupun kemungkinan yang menurut pandangan kami, aku dan istriku, pantas menjadi penyebab Ibuku menangis khawatir. Masih banyak saudara-saudara seperjuangan kami yang jauh lebih sederhana dari kami. Hidup kami terlalu mewah untuk dikhawatirkan.

Air mata Ibu sudah menetes. Hati Ibu sudah gundah, resah. Sebagus sebaik apapun pandangan hidupku, tidak ada artinya bila itu menyebabkan kesedihan Ibu. Aku harus menghapus keresahan kesedihan Ibu. Semaksimal mungkin kami harus menunjukkan kepada Ibu bahwa kami adalah keluarga yang paling bahagia di muka bumi. Aku harus meyakinkan Ibu bahwa aku sudah mempersiapkan masa depan anak-anakku meskipun harus sedikit berimprovisasi kata-kata dan menutupi sebagian kecil kenyataan. Aku tidak boleh lagi terlalu vulgar menyampaikan atau melakukan apa yang menjadi prinsip hidupku, saat di depan Ibu,  bila itu membuat Ibu bahagia. Semoga kebahagiaan dan berkah selalu mengisi sisa usia Ibuku yang tercinta.

8 thoughts on “Kesedihan Ibu

  1. Jadi ingat ibu saya di kampung. Salam kenal juga mas Dian

    [nmd]Hari ahad besok Ibu berkunjung lagi ke Malang. Kami harus bersiap diri membuatnya bahagia selama di Malang, tidak ada lagi air mata..🙂 😀

  2. Begitulah hidup kita jalani, mas Dian. Kita bahagia, masih ada yg melihat bahwa kita masih ada yg kurang. Sayangnya, merekalah orang2 yg kita cintai kadang2. Mungkin bukan kekayaan yg mereka pikirkan pd kita. Pertanyaan saya, “Mengapa ibu tidak scr langsung berbicara dg panjenengan?” Berbahagialah mas Dian masih punya ibu. Saya tidak memiliki ibu sejak usia satu tahun. Mungkin baik kalau panjenengan mendekat dan menanyakan apa masalahnya, agar beliau tidak meneteskan air mata lagi. Maaf, jadi curhat. Salam hangat.

    [nmd] Ibu tidak bicara langsung ke saya karena menganggap saya masih seperti dulu, sebelum menikah, keras-nggak bisa diajak omong🙂 Tapi saya akan berusaha “mendekati ibu”. Terima kasih sarannya mas

  3. Mungkin karena sampeyan sekarang lagi gemar bersepeda

    [nmd]😀 Mungkin juga pak…😀 Atau mungkin karena saya suka minum teh rosela…😀

  4. Wah..kesukaan kita kok sama ya. Bersepeda terus minum teh rosela bikin badan tambah sehat, apalagi tidak merokok. Kapan-kapan kita bersepeda ke Lawang, nyambangi Lik Heri

    [nmd]Setuju pak…Saya sudah lama ingin silaturahim ke Lawang…

  5. yan setelah 14 tahun kok sekarang banyak kemajuan antum dalam menulis, piye carane ajarono aku

    [nmd]Alhamdulillah akhiy Salis…Kalau akhiy menganggap tulisanku banyak kemajuan, dengan Ridho ALLOH,karena bantuan sahabat-sahabatku di Blog ini yang selalu membinaku. Ayo bergabung akhiy, bikin blog…

  6. saya blm berkeluarga.tp mmg sdg merintis dan bkerja utk mnabung.bbrapa tawaran ibu utk potong jalur srg tdk sjalan dgn watak saya yg ingin idealis mjalani tugas saya.iya saya dianggap yg plg keras dlm keluarga.
    akhirnya bagaimana cara bapak menyikapi ketidak pahaman ibu akan jalan yg bpk pilih?

    [nmd]Yang saya lakukan sekarang adalah berusaha membuktikan kepada ibu tentang kebenaran pinsip saya. Dan berdoa semoga ALLOH membuka pintu hati ibu, karena saya yakin prinsip saya adalah sesuai tuntunan agama.Saya pernah baca bahwa Kang Abik (Habiburrohman El Shirazy) sampai menyewa ruko untuk menulis hanya untuk menenangkan hati ibunya yang belum yakin bahwa jadi penulis juga bisa mendapatkan rizqi yang besar. Saya sedang mencari cara untuk menenangkan hati ibu, sambil menunggu hasil yang sudah saya semai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s