Koran

“Bulan depan saya sudah tidak bisa mengantar koran lagi. Saya nggak sanggup bu..Terlalu sedikit pelanggan saya, tidak seimbang dengan bensin, waktu dan tenaga yang saya keluarkan” kata pak Yahya siang itu saat menagih uang langganan koran. Kami sangat sedih mendengarnya. Kami sangat senang dan cocok dengan pak Yahya. Setiap bada Shubuh, jam limaan, pak Yahya sudah datang mengantar Koran pagi. Kami jadi punya banyak waktu membaca koran sebelum melakukan persiapan aktifitas harian kami. Coqi menggelar koran itu di atas dampar dan membacanya dalam posisi merangkak, karena badannya masih terlalu kecil. Sore hari bada Ashar pak Yahya datang lagi mengantarkan koran sore, yang langsung dibaca Coqi sepulang sekolah jam setengah empat sore.

“Harga koran naik terus Bu, banyak pelanggan saya yang keberatan dan berhenti berlangganan.”

Ternyata dampak melambungnya harga kertas sangat besar. Banyak orang tidak sanggup lagi berlangganan koran. Karena pelanggannya sedikit akhirnya banyak loper koran yang beralih profesi. Bagaimana dengan kami, yang ingin berlangganan koran?

One thought on “Koran

  1. ah jadi ingat tulisan Azrul ANnanda (PImred Jawapos) tentang berjudul NEWS PAPER IS DEAD — karena faktanya koran cetak sudah tergusur dengan koran elektronik..

    bahkan Azrul sendiri baca koran cetak 30 menit / hari

    koran online 2 jam / hari

    [nmd]Berarti agent koran harus ganti usaha menjadi pengusaha Warnet…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s