Bapak : Berpulangnya Sang Super Ikhlas

(Kisah 8 tahun yang lalu)

Semalaman aku memegang tangannya. Kupandangi wajahnya yang pucat, kurus. Masih sangat tampak gurat-gurat kebijaksanaan di wajah yang semakin redup sinarnya. Sesekali beliau terbangun, tersenyum manis, sangat manis sambil mengacungkan ibu jari dan bergumam lemah. Sangat lemah sehingga aku tidak bisa mendengarnya. Malam itu pertama kali aku mendapat giliran jaga, menemani bapak yang sudah 20 hari opname di RSU Dr. Soetomo karena sakit kanker hati.

Baru sehari sebelumnya aku tiba dari Jakarta, bersama istri dan anakku.

Sebenarnya Bapak sudah empat bulan sakit, tetapi baru dua puluh hari yang lalu bersedia dirujuk ke rumah sakit. Dan setiap kali aku menelepon dari Jakarta beliau selalu menjawab , dengan suara yang tegar bagaikan tidak sakit, agar aku tidak perlu khawatir karena beliau tidak apa-apa.

”Bapak nggak apa-apa kok Yan…Kamu nggak usah khawatir, ALLOH memberikan penyakit kepada hambanya pasti ada tujuannya. Dan setiap penyakit pasti ada obatnya”

Mendapat jawaban seperti itu rasa gundah di hatiku agak berkurang. Sebenarnya sejak mendapat kabar bapak sakit hepatitis aku ingin segera menjenguk ke Jember. Tapi aku tidak tega meninggalkan istri dan anakku di Jakarta. Sedangkan bila kami bertiga harus pergi semua, kami belum punya cukup ongkos.

Bahkan saat Bapak sudah masuk rumah sakitpun beliau bersikukuh agar aku tidak khawatir dan tidak perlu datang ke Surabaya.

”Jaga saja Coqi dan Wulan…Mereka baik-baik saja khan? Sebentar lagi lebaran kalian mudik khan?”

Sampai kemudian Ibu menelepon, memintaku segera pulang. Ibu mengatakan bahwa permintaannya ini tanpa sepengetahuan Bapak. Aku segera mengumpulkan uang untuk ongkos. Untunglah kami punya banyak teman dan saudara yang bersedia membantu. Kami berangkat naik kereta api malam. Sesampai di Surabaya kami langsung menuju ke RS Dr. Soetomo. Masya ALLOH, aku sangat kaget dan menahan tangis saat bertemu Bapak. Bapak sangat kurus dan pucat. Sorot matanya redup. Tetapi Bapak tersenyum ceria melihat kedatangan kami. Senyum ceria yang menjadi ciri khas Bapak. Bapak sudah sangat lemah, bahkan untuk berbicara sudah terengah-engah, sangat beda dengan suaranya saat di telepon. Berarti Bapak berusaha keras agar terdengar sehat bila berbicara di telepon denganku.

Selama di Surabaya aku selalu berjaga menemani Bapak semalaman. Sambil memijit tangan Bapak, aku pandangi wajah dan tubuh kurus Bapak. Kata Ibu berat badan Bapak susut tiga puluh lima kilogram. Bapak tidak mengeluh sama sekali, kecuali minta minum saat kehausan, padahal –kata suster yang merawat- penyakit Bapak akan membuat penderita mengalami kesakitan. Bapak, orang yang selalu memberiku semangat menghadapi hidup, terbaring lemah dan kesakitan.Tangan Bapak keriput, kisut dan lemah lunglai. Tangan yang dulu kekar, yang dengan tanpa ragu-ragu membersihkan borok kakiku yang dipenuhi nanah.

Empat malam sejak kedatangan kami di Surabaya, bapak minta pindah dirawat di rumah sakit Jember. Bapak tidak mau merepotkan anak-anak dan istrinya. Ibu, kakak dan suaminya bekerja di Jember, sehingga mereka harus cuti atau pergi-pulang ke Surabaya bila Bapak tetap dirawat di Surabaya. Semalam sebelum dipindah ke Jember, Bapak menegaskan kepada kami semua agar ikhlas bila Bapak menghadap YANG MAHA KUASA.

Setelah tiga malam dirawat di Jember Bapak menghembuskan nafas yang terakhir, didampingi ibu dan seluruh anak yang mencintainya.

Orang yang super ikhlas* itu sudah tiada

Orang yang selalu membesarkan hatiku meninggalkanku

Orang yang mengenalkanku kepada ALLOH sudah bertemu denganNYA

Selama hidupnya, aku merasa belum sempat membahagiakan Bapak, bahkan secara finansialpun Bapaklah yang masih mensupport kami. Sekarang Bapak sudah tiada. Yang bisa aku lakukan hanya mendoakan Bapak.

Ya ALLOH ampunilah kesalahan Bapak…

Ya ALLOH jauhkan dan lindungi Bapak dari siksa kubur…

Ya ALLOH jauhkan dan lindungi Bapak dari siksa neraka…

Ya ALLOH pertemukan aku dengan Bapak di surgaMU…

(* Bagaimana super ikhlasnya Bapak…? Akan kutuliskan kemudian)

4 thoughts on “Bapak : Berpulangnya Sang Super Ikhlas

  1. Anak yang saleh adalah ”dividen” yang terus mengalir bagi ibu kita, bapak kita, meskipun beliau sudah menghadapNya. Pengorbanan orang tua tak terbalas dengan segala apa yang kita miliki. Kita cuma bisa mengucap : Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro…

    [nmd]Amin…

  2. Ping-balik: Bapak : Martabak « H A T I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s