Jakarta 1


Setelah sekian lama meninggalkannya, kali ini aku merasakan lagi hingar-bingarnya kota Jakarta. Sebenarnya beberapa belas bulan yang lalu aku sempat beberapa kali mengunjungi Jakarta, tetapi hanya dalam waktu yang sangat singkat. Saat ini aku tinggal selama 2 minggu, cukup lama untuk bisa meresapi suasana ibu kota Indonesia.

Aku pernah tinggal di Jakarta selama 4 tahun lebih 3 bulan. Sebelumnya aku tinggal di Surabaya dalam kurun waktu yang hampir sama. Tetapi masa-masa hidup Jakarta lebih berkesan di hatiku. Banyak sekali kenangan-kenangan manis yang aku, istri dan anakku alami di Jakarta.

Bagaimana beratnya mengatur keuangan agar cukup untuk menutupi biaya hidup (saat itu anakku masih dalam usia balita yang masih membutuhkan susu) sedangkan gajiku saat itu masih sangat minim. Setiap turun hujan deras dalam waktu yang lama kami harus bersiap-bersiap menerima kehadiran tamu – air yang meresap melalui sela-sela keramik – membanjiri seluruh lantai rumah. Saat banjir besar melanda Jakarta pada awal Februari 2002, kami terpaksa harus mengungsi ke tetangga sebelah – keluarga pak Warto yang sangat mulia, semoga Allah membalas semua kebaikan mereka – karena air yang masuk ke rumah sudah mencapai lutut, dan butuh waktu 24 jam lebih menunggu air surut. Setelah air surut kami masih harus  hidup tanpa listrik selama 2 minggu. Isyroqi anakku sempat mengalami trauma, ketakutan bila turun hujan. Sebaliknya kami juga pernah merasakan beberapa minggu kekurangan air bersih karena tanggul PDAM jebol, hingga setiap hari kami harus meminta air ke tetangga yang mempunyai sumur – yang sebenarnya airnya tidak terlalu bersih.

Setiap pagi aku harus rela berpanas-gerah melompat dari bus ke angkot untuk mencapai tempat kerja. Kulakukan hal yang sama saat pulang, bahkan lebih parah karena kemacetan lalulintas.Pernah karena kemacetan lalulintas yang sangat parah sedangkan saat itu uangku tidak cukup untuk membayar ongkos ojek, aku harus berjalan beberapa kilometer dari Pasar Baru ke rumahku di Kemayoran. Belum lagi beberapa kali konflik dengan pencopet, yang untungnya Allah masih melindungi jiwaku dan hartaku yang hanya sedikit.

Semua hal yang kami alami di Jakarta, menjadi kenangan yang sangat manis. Karena memang saat-saat itu kami lalui dengan senyum ceria, tanpa keluhan dan ratapan. Takkan terlupakan di pagi hari saat air mengalir deras memasuki rumah, aku bangunkan istriku untuk mengajaknya sholat subuh berjamaah di atas tempat tidur, kemudian bersama-sama mengungsi. Masih bisa kami rasakan hangatnya suasana rumah pak Warto saat kami mengungsi di rumahnya. Masih terasa saat-saat aku dan istriku saling menatap sambil menghitung waktu saat hujan deras , yang kemudian kami teruskan dengan kegiatan memindah barang ke tempat yang lebih tinggi. Pada saat-saat itu yang kami pikirkan adalah bahwa masih banyak keluarga lain yang merakan penderitaan yang lebih parah dari kami. Apapun yang kami alami, kami masih bisa bersama, tertawa bersama bahkan menangis bersama, adakah yang lebih baik dari itu?

Sejak 2 tahun yang lalu kami sudah menetap di Malang, di rumah yang sejuk dan tidak pernah khawatir kena banjir. Tetapi masa-masa indah perjuangan kami di Jakarta tidak akan pernah tergantikan. Masa-masa saat kami menemukan bahwa kebersamaan adalah harta yang tak ternilai, dan penderitaan hanyalah istilah bagi orang yang tak mau berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Jakarta,Hotel Ibis Arcadia, 01 Maret 2006

Tulisan lain tentang hikmah kehidupan :

– IBSN: Kamu Nyesel Gak??

2 thoughts on “Jakarta 1

  1. memang klo boleh memilih, saya ingin tinggal di kota Malang tercinta. Lebih tenang dan bisa lebih menikmati waktu dengan baik. Jakarta terlalu hectic dan waktu berjalan sangat cepat.

    [nmd]:) Tapi kalau disuruh memilih kota mana selain Malang, saya pilih Yogyakarta atau Jakarta…🙂

  2. Sebelum akhirnya mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah, semangat saya untuk belajar mencari pengalaman sangat besar, tidak peduli masalah gaji, dimana tempat kerjanya, apapun kerjaanya asal optimasi telekomunikasi seluler..setelah bekerja di 3 perusahaan yang berbeda selama kurang dari setahun setelah lulus dan tentu dengan gaji yang trus bertambah ditambah bekerja dibagian yang saya idamkan.. saya mulai mencari dimana semangat itu, saya sadar perjalanan saya masih panjang..apakah saya takut menderita?! astagfirullah

    [nmd]Sebenarnya tidak ada penderitaan di dunia yang fana, kecuali bagi orang-orang yang tidak mau bersyukur dan mengambil hikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s