Bahagia

Aku sering mendengar -bahkan memberi saran kepada teman- bahwa untuk masalah dunia seharusnya kita selalu melihat ke bawah, tapi apakah aku sudah bisa menjalankannya?Lebih mudah memandang orang lain kemudian bergumam “Alangkah bahagianya mereka”, daripada memandang diri sendiri dan mensyukuri apa yang sudah aku dapatkan. Bahkan aku berusaha mencari pembenaran atas ketidakpatuhanku terhadap pesan-pesan mulia tersebut. Aku berdalih :”Aku bukan tidak bersyukur atau tidak puas, aku hanya merasa seharusnya aku bisa seperti mereka!Sudah sepantasnya aku mendapatkan apa yang mereka dapatkan!Aku punya potensi untuk mencapai semua itu!” dan banyak lagi dalih-dalih yang membuatku semakin galau.

Kegalauan itu sering menderaku sampai tiba saat itu, beberapa hari yang lalu, saat aku terlibat dalam suatu obrolan santai dengan istriku, ummubasil. Suatu ritual yang tidak terjadwal tapi sangat sering kami lakukan, dan aku sangat senang melakukannya. Ummubasil tidak suka membaca, tetapi dia suka mendengarkan, sedangkan aku suka membaca dan suka bicara. Seringkali dalam suatu obrolan dia mengingatkanku akan nasehatku sendiri yang pernah aku katakan kepada dirinya. Ummubasil bukan terlahir dari keluarga yang mempunyai pemahaman agama yang bagus, tetapi dia selalu berusaha mencari dan mengamalkan apa yang ditemukannya.Dalam obrolan beberapa hari yang lalu, dia mengatakan bahwa dia selalu bahagia dengan apa yang didapatkannya.Dia selalu bahagia dengan segala apa yang sudah aku berikan. Dia sangat bahagia sudah dianugerahi ALLOH seorang suami yang bisa membimbingnya dan seorang anak yang sehat. Mungkin suatu kalimat yang klise bila orang lain yang mengatakannya, tapi menjadi sangat berarti karena istriku yang mengatakannya. Istriku yang selalu tulus mendampingiku. Istriku yang kehilangan seluruh perhiasan dan tabungannya untuk menutup biaya hidup saat awal-awal kami menikah.Istriku yang merelakan pekerjaannya agar bisa mengabdi sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga. Istriku yang rela berboncengan naik motor saat hamil tua, bahkan mengalami kecelakaan.Tidak pernah mengeluh.

Kebahagiaan adalah hak preogatif ALLOH dalam memberikan kepada mahlukNYA, seperti halnya Iman. Kita tidak mungkin bisa mendapatkannya sendiri, tanpa anugerah dari-NYA.Kita hanya bisa berusaha mendapatkannya. Dan ALLOH memberiku kebahagiaan melalui istriku.

Mulai saat itu, setiap kali hatiku galau aku akan mengingat istriku, bahwa tidak semua orang (mungkin hanya sedikit) memiliki istri sebijaksanana dia, setulus dia, dan tentu saja secantik dia. Semoga ALLOH selalu membuatnya bahagia.

Jakarta,Hotel Ibis Arcadia, 21 Februari 2006

One thought on “Bahagia

  1. Ping-balik: Bersyukur = Bahagia « H A T I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s